Dalam kajian geografi dan geologi, gunung api tidak hanya dibedakan berdasarkan aktivitasnya, tetapi juga berdasarkan bentuk morfologi dan proses terbentuknya. Perbedaan bentuk gunung api dipengaruhi oleh sifat magma, tipe erupsi, tekanan gas, serta material vulkanik yang dikeluarkan saat letusan. Secara umum, bentuk gunung api dibedakan menjadi gunung api strato, perisai, maar, dan kaldera.
Pengertian Gunung Api
Gunung api adalah bentukan muka bumi berupa gunung yang memiliki saluran magma dari dalam bumi menuju permukaan. Magma yang keluar melalui letusan dapat berupa lava, gas vulkanik, abu vulkanik, lahar, dan material piroklastik lainnya. Aktivitas keluarnya magma dari dalam bumi disebut vulkanisme. Proses vulkanisme dapat membentuk bentang alam baru sekaligus mengubah kondisi permukaan bumi di sekitarnya. Indonesia memiliki ratusan gunung api, dan sebagian di antaranya masih aktif hingga sekarang. Banyaknya gunung api tersebut menyebabkan Indonesia memiliki tanah vulkanik yang subur, tetapi juga berisiko tinggi terhadap bencana erupsi.Faktor yang Mempengaruhi Bentuk Gunung Api
Bentuk gunung api tidak terbentuk secara kebetulan. Ada beberapa faktor utama yang memengaruhi morfologi gunung api.1. Kekentalan Magma
Magma dengan tingkat kekentalan tinggi cenderung sulit mengalir sehingga menumpuk di sekitar kawah dan membentuk lereng curam. Sebaliknya, magma encer lebih mudah mengalir jauh sehingga membentuk lereng landai.2. Tipe Letusan
Tipe erupsi sangat memengaruhi bentuk gunung api.- Erupsi efusif menghasilkan aliran lava yang relatif tenang
- Erupsi eksplosif menghasilkan ledakan kuat disertai abu dan material vulkanik
3. Material Vulkanik
Material seperti lava, abu, lapili, pasir vulkanik, dan bom vulkanik akan membentuk lapisan berbeda pada tubuh gunung api.4. Frekuensi Erupsi
Gunung yang sering mengalami letusan akan terus mengalami perubahan bentuk akibat penumpukan material vulkanik.Jenis Bentuk Gunung Api
1. Gunung Api Strato (Kerucut)
Gunung api strato merupakan tipe gunung api yang paling umum ditemukan di Indonesia. Bentuknya menyerupai kerucut dengan lereng curam dan puncak tinggi. Gunung api ini terbentuk akibat erupsi yang terjadi berulang kali secara bergantian antara erupsi efusif dan eksplosif. Lava dan material vulkanik lainnya mengendap secara berlapis sehingga membentuk tubuh gunung yang tinggi. Kata strato berasal dari kata stratum yang berarti lapisan. Hal tersebut menunjukkan bahwa tubuh gunung tersusun atas lapisan lava dan material piroklastik.Karakteristik Gunung Api Strato
- Bentuk kerucut simetris
- Lereng relatif curam
- Tersusun atas lapisan lava dan abu vulkanik
- Letusan dapat bersifat eksplosif maupun efusif
- Memiliki dapur magma dalam
- Tinggi gunung terus bertambah akibat endapan material vulkanik
Saat terjadi erupsi, lava dan material vulkanik keluar dari kawah lalu mengendap di sekitar gunung. Proses tersebut berlangsung berulang kali selama ribuan tahun sehingga membentuk lapisan-lapisan yang semakin tinggi.
Contoh Gunung Api Strato di Indonesia
- Gunung Merapi
- Gunung Semeru
- Gunung Kerinci
- Gunung Agung
- Gunung Slamet
- Gunung Tangkuban Perahu
2. Gunung Api Perisai
Gunung api perisai atau gunung api tameng memiliki bentuk sangat landai dan melebar menyerupai perisai.
Bentuk ini terbentuk akibat magma basaltik yang sangat encer sehingga lava dapat mengalir sangat jauh sebelum membeku. Karena lava tidak menumpuk di satu titik, lereng gunung menjadi landai.
Gunung api perisai umumnya memiliki letusan efusif dengan tingkat ledakan rendah.
Karakteristik Gunung Api Perisai
Karakteristik Gunung Api Perisai
- Lereng sangat landai
- Diameter gunung sangat luas
- Tersusun dari lava basaltik encer
- Letusan relatif tenang
- Dapur magma dangkal
- Jarang menghasilkan ledakan besar
Lava cair keluar secara terus-menerus dan mengalir ke berbagai arah. Setelah membeku, lava membentuk lapisan tipis yang semakin lama semakin luas.
Contoh Gunung Api Perisai
- Mauna Loa (Hawaii)
- Mauna Kea (Hawaii)
- Kilauea (Hawaii)
- Gunung Batur (Bali)
3. Gunung Api Maar
Gunung api maar terbentuk akibat letusan eksplosif yang sangat kuat. Letusan tersebut menghasilkan lubang besar berbentuk cekungan atau kawah lebar. Istilah maar berasal dari bahasa Jerman yang berarti kawah. Gunung api maar biasanya hanya mengalami satu kali letusan besar. Setelah itu aktivitas vulkaniknya berhenti dan gunung menjadi tidak aktif.Karakteristik Gunung Api Maar
- Berbentuk cekungan
- Memiliki kawah lebar
- Lereng relatif rendah
- Terbentuk akibat letusan eksplosif
- Aktivitas vulkanik cenderung sekali saja
- Dapur magma dangkal dengan tekanan tinggi
Jika dasar kawah mampu menahan air hujan atau air tanah, maka akan terbentuk danau maar.
Contoh Gunung Api Maar
- Gunung Lamongan (Jawa Timur)
- Kawasan Dieng
- Maar di Pegunungan Eifel (Jerman)
4. Gunung Api Kaldera
Kaldera merupakan cekungan vulkanik berukuran sangat besar yang terbentuk akibat runtuhnya puncak gunung setelah terjadi letusan besar. Ketika letusan mengeluarkan magma dalam jumlah sangat besar, dapur magma menjadi kosong sehingga bagian atas gunung kehilangan penyangga dan amblas membentuk cekungan luas. Ukuran kaldera jauh lebih besar dibanding kawah biasa.Jenis Kaldera
Kaldera Letusan : Terbentuk akibat ledakan besar yang menghancurkan sebagian tubuh gunung.
Kaldera Runtuhan : Terjadi karena bagian atas gunung runtuh setelah dapur magma kosong.
Kaldera Resurgent : Terjadi ketika bagian tengah kaldera kembali terangkat akibat aktivitas magma baru.
Kaldera Erosi : Terbentuk akibat erosi yang berlangsung sangat lama pada dinding kawah.
Karakteristik Kaldera
- Kawah sangat luas
- Dinding curam
- Sering terisi air membentuk danau
- Menjadi sisa letusan besar
- Danau Toba
- Kaldera Tengger
- Gunung Rinjani
- Danau Maninjau
Perbedaan Bentuk Gunung Api
| Jenis | Bentuk | Jenis Erupsi | Jenis Erupsi |
|---|---|---|---|
| Strato | Kerucut curam | Efusif dan eksplosif | Berlapis lava dan abu |
| Perisai | Landai melebar | Efusif | Lava encer |
| Maar | Cekungan | Eksplosif | Letusan sekali |
| Kaldera | Kawah besar | Sangat eksplosif | Akibat runtuhan puncak |
Aktivitas Pasca Vulkanik
Setelah letusan gunung api berhenti, masih dapat muncul gejala pasca vulkanik.- Solfatara : Keluarnya gas belerang dari celah vulkanik.
- Fumarola : Keluarnya uap air dan gas panas dari dalam bumi.
- Mofet : Keluarnya gas karbon dioksida dari rekahan tanah.
- Geyser : Semburan air panas secara berkala akibat tekanan panas bumi.
Dampak Vulkanisme bagi Kehidupan
Aktivitas vulkanisme memberikan dampak positif maupun negatif.Dampak Positif
- Tanah Menjadi Subur, abu vulkanik kaya akan mineral sehingga baik untuk pertanian.
- Sumber Bahan Tambang, daerah vulkanik menghasilkan pasir, batu, belerang, hingga logam tambang.
- Potensi Energi Panas Bumi, daerah vulkanik dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi geothermal.
- Objek Wisata, gunung api menjadi destinasi wisata alam dan penelitian geologi.
Dampak Negatif
- Letusan Gunung Api, Erupsi dapat menghancurkan permukiman dan lahan pertanian.
- Awan Panas memiliki suhu tinggi dan bergerak sangat cepat.
- Material vulkanik bercampur air dapat mengalir dan merusak wilayah sekitar sungai.
- Pergerakan magma dapat memicu gempa vulkanik.



